Amerika Manfaatkan Fungsi Nuklir Yang Menghasilkan 10% Energi Matahari

Amerika Manfaatkan Fungsi Nuklir Yang Menghasilkan 10% Energi Matahari

Para peneliti di National Ignition Facility atau NIF Amerika Serikat atau AS baru saja mengumumkan terobosan baru mereka dalam memanfaatkan teknologi fusi nuklir yang bisa menghasilkan 10 kuadrilian watt daya.

Eksperimen fusi nuklir di fasilitas laser terbesar di dunia itu melepaskan 1,3 juta joule energi, mendekati titik yang dikenal sebagai pengapian di mana fusi nuklir melepaskan banyak energi daripada meledakkannya. Bahkan negara ini juga mencoba untuk menggunakan energi nuklir untuk menjalankan situs slot online terbaru agar selalu aktif non-stop.

Hasil reaksi dengan sinar laser mencapai panas 100 juta derajat Celsius jauh lebih panas dari inti Matahari yang hanya 15 juta derajat Celsius.

Para peneliti di Lawrence Livermore National Laboratory di California Utara mengatakan mereka telah memfokuskan 192 laser raksasa di NIF seukuran kacang, menghasilkan pelepasan energi 1,3 megajoule dalam 100 triliun detik.

Pelepasan energi itu setara dengan 10 persen energi sinar Matahari yang menyinari Bumi setiap saat.

Para peneliti memfokuskan susunan raksasa mereka yang terdiri hampir 200 sinar laser ke sebuah titik kecil untuk menciptakan ledakan energi yang besar. Skala itu delapan kali lebih banyak daripada yang pernah mereka lakukan di masa lalu.

Para ilmuwan berharap suatu hari akan mencapai titik ‘pengapian’, di mana fusi nuklir mengeluarkan 100 persen atau lebih banyak energi daripada yang diserapnya.

Hasil energi secara signifikan disebut lebih besar dari yang diharapkan para ilmuwan dan jauh lebih besar dari rekor sebelumnya yaitu 170 kilojoule, pada uji coba bulan Februari.

Beberapa ilmuwan berharap bahwa fusi nuklir suatu hari nanti bisa menjadi metode yang relatif aman dan berkelanjutan untuk menghasilkan energi di Bumi.

“Hasil ini merupakan langkah maju bersejarah untuk penelitian fusi nuklir, membuka rezim baru yang fundamental untuk eksplorasi dan kemajuan misi keamanan nasional kami yang kritis,” kata direktur Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, Kim Budil.

Para ilmuwan dan insinyur telah bekerja selama lebih dari 60 tahun untuk meneliti pemanfaatan fusi nuklir berkelanjutan. Tetapi beberapa peneliti berpikir mereka akan dapat mempertahankan fusi di tokamaks dalam beberapa tahun.

Metode yang dikembangkan di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore itu adalah salah satu dari beberapa cara untuk mencapai fusi nuklir tanpa menggunakan tokamak.

Dikutip Science News, tokamak adalah sebuah mesin yang memproduksi medan magnet untuk mengurung plasma. Alat itu merupakan alat yang paling banyak diteliti untuk memproduksi tenaga fusi termonuklir.

Sebagai gantinya, NFI menggunakan rangkaian penguat sinar laser seukuran tiga lapangan sepak bola untuk memfokuskan sinar laser pada pelet bahan bakar hidrogen dalam “ruang target” logam bulat selebar 10 meter.

Laser ini adalah yang paling kuat di dunia, mampu menghasilkan hingga 4 megajoule energi. Metode ini awalnya dirancang agar para ilmuwan dapat mempelajari perilaku hidrogen dalam senjata termonuklir yang disebut bom hidrogen. Tetapi para ilmuwan berpikir hal itu dapat menghasilkan lebih banyak energi dari fusi nuklir.

Namun pengaturan NIF tidak dapat digunakan di pembangkit listrik fusi karena lasernya hanya dapat menyala sekitar sekali sehari, sementara pembangkit listrik perlu menguapkan beberapa pelet bahan bakar setiap detik untuk memodifikasi proses agar digunakan secara komersial.

Fisikawan plasma Siegfried Glenzer dari SLAC National Accelerator Laboratory di Stanford University, yang sebelumnya bekerja di Livermore, mengatakan kepada The New York Times bahwa para ilmuwan di SLAC sedang mengerjakan sistem laser bertenaga rendah yang menghasilkan listrik jauh lebih cepat.

Glenzer berharap energi dari fusi nuklir akan berkembang dalam upaya menggantikan bahan bakar fosil, yang selama beberapa tahun terakhir didominasi oleh energi surya dan teknologi lainnya.

“Ini sangat menjanjikan bagi kami, untuk mencapai sumber energi di planet ini yang tidak akan mengeluarkan CO2,” katanya seperti dikutip NY Times.

Fisikawan Stephen Bodner, yang sebelumnya mengepalai penelitian plasma laser di Naval Research Laboratory di Washington, DC, sangat kritis terhadap beberapa detail desain NIF.

Dia mengaku terkejut dengan hasilnya, yang mendekati “pengapian” pelet, titik di mana ia memancarkan energi lebih banyak atau lebih banyak daripada yang diserapnya.

“Mereka sudah cukup dekat dengan tujuan penyalaan dan titik pusat untukmencapai keberhasilan,” kata Bodner.

Meskipun Bodner menyukai desain yang berbeda, “itu menunjukkan bahwa secara mendasar tidak ada yang salah dengan konsep fusi laser,” katanya.

“Sudah waktunya bagi AS untuk bergerak maju dengan program energi fusi laser yang besar,” ungkapnya.